Jumat, 14 Januari 2011

KERATON KAIBON YANG MEMPESONA


Kaibon berasal dari kata ka-ibu-an, yang berarti keraton tempat tinggal ibu (sultan). Komplek Keraton Kaibon yang terletak di kampung Kroya wilayah Kasemen, Serang – Benten merupakan tempat kediaman Ibu Ratu Asyiah, ibunda Sultan Syafiuddin.
Pada tahun 1832 keraton ini dibongkar oleh pemerintah Hindia Belanda, yang tersisa sekarang hanya pondasi dan tembok-tembok serta gapuranya saja. Seperti halnya dalam penghancuran Keraton Surusowan, maka bahan-bahan bangunan keraton Kaibon yang masih dapat digunakan dibawa oleh Belanda ke Serang.
Keraton Kaibon mempunyai sebuah pintu besar yang dinamai Pintu Dalem. Di pintu gerbang sebelah barat menuju Masjid Kaibon terdapat tembok yang dipayungi sebuah pohon beringin. Pada tembok tersebut terdapat 5 pintu bergaya Jawa dan Bali



(Paduraksa dan Bentar). Apabila dibandingkan dengan arsitektur keraton Surusowan, Keraton Kaibon nampak lebih archaik, terutama bila dilihat dari rancang bangun pintu-pintu dan tembok keraton. Untuk menuju keraton terdapat 4 buah pintu bentar, begitu pula halnya dengan jenis pintu gerbang menuju bagian dalam keraton.




Lokalitas tradisional Siti Hinggil pada keraton Jawa pada umumnya, di keraton Kaibon ini menjadi lokasi penempatan bangunan masjid, yakni di halaman kedua. Yang tersisa kini hanya bagian mihrabnya saja.




Untuk memasuki masjid harus melalui pintu Paduraksa. Dalam konsep arsitektur Hindu, pembedaan jenis pintu Bentar dan Paduraksa mengacu pada jenis/ fungsi bangunan sakral/ profan.
Karena tempatnya yang cukup mempesona dan memiliki historis yang tinggi, Keraton Kaibon tidak jarang digunakan sebagai tempat untuk membuat film, foto pernikahan, dan lain sebagainya.